Global Artists Network

Global network of Visual artists,Art buyers,Art galleries and Art lovers

STATEMENT ARTIST & KONSEP KARYA
“NINA BOBO; anakku akan jadi apa?”


Sebagai seorang seniman perempuan yang menyatakan diri sebagai seorang feminis, banyak sekali yang ingin saya angkat dan bicarakan dalam sebuah karya. Kadangkadang ideide itu berloncatan dan tumpangtindih. Seringkali saya merasa kesulitan bagaimana dalam sebuah karya saya bisa menyampaikan banyak “gagasan” dan karya tersebut “bicara” lebih banyak lagi dari yang saya inginkan.

Seperti kesempatan kali ini, saya tersedot dalam ide-gagasan tentang masalah kependudukan di Indonesia yang jumlahnya semakin meningkat dari tahun ke tahun (data: “Proyeksi Penduduk tahun 2000-2025” - http://www.datastatistik-indonesia.com/proyeksi/index.php?option=co...) dan realitas bahwa Indonesia sebagai salah satu negara yang masuk peringkat 4 dunia sebagai penduduk terbanyak. Seperempat miliyar lebih penduduk Indonesia!! Bayangkan!!

Lalu apa korelasi kepadatan penduduk ini dengan karya “bayi-bayi” yang saya buat? Kepadatan dan pertumbuhan penduduk yang meningkat cepat, berkelindan dengan pengendalian pertumbuhan penduduk –kontrasepsi—lalu, berkelindan pula dengan tingkat kesehatan ibu-anak dan masih tingginya tingkat kematian ibu-anak. Dengan tingkat resiko dan kurangnya pemahaman kesehatan reproduksi-ibu-anak dan pengendalian jumlah penduduk, memunculkan sebuah pertanyaan mendasar dalam benak saya yang secara empiris adalah seorang ibu; “anakku mau jadi apa?” – “bagaimana masa depannya kelak?”

Pertumbuhan tingkat penduduk kemudian berbanding lurus dengan jumlah pekerjaaan, sumber daya manusia (SDM), pendidikan, dan yang paling mengerikan menjadi akar permasalahan kemiskinan.

Tiap tahun jumlah kelahiran bayi di Indonesia mencapai sekitar 4,5 juta bayi. Dan juga Dari pendataan Badan Statistic Indonesia (BPS). Jika pertumbuhan penduduk tidak dikendalikan maka suatu saat nanti sumber daya alam akan habis. Sehingga muncul wabah penyakit, kelaparan, dan berbagai macam penderitaan manusia.

Disadari atau tidak bahwa jumlah kelahiran tertinggi terjadi pada keluarga miskin dan di bawah garis kemiskinan. Kenapa demikian? Karena penurut hemat saya, satu-satunya hiburan bagi pasutri keluarga miskin adalah hubungan intim/seks, yang tidak dibekali kesadaran tentang pencegahan untuk memiliki anak lebih dari kemampuan mereka.

Berbeda dengan golongan keluarga menengah ke atas, dimana tingkat pemahaman merekan akan pengendalian angka kelahiran ditunjang pula dengan pengetahuan akan penggunaan kontrasepsi dan aktivitas harian yang menuntut setiap individu untuk berkarya-bekerja-dan memahami pentingnya tanggung jawab untuk membesarkan anak secara layak hingga jauh berpikir jangka panjang untuk masa depannya.

Lalu bagaimana dengan “bayi-bayi” yang sudah kadung dilahirkan? Bagaimana peran ibu? Peran bapak? Peran orangtua? Peran masyarakat? Dan peran pemerintah? Bukankah menurut perundangan: anak-anak terlantar dipelihara oleh negara? Atau hingga saat ini statement itu hanya slogan semata dan wacana untuk menenangkan warga negaranya yang kritis?

Tentu kita masih terus berharap pemerintah lebih serius dalam mendisiplinkan program pengendalian penduduk, jika benar pemerintah memikirkan kemajuan bangsa dan negara ini. Karena menurut hemat saya, keberhasilan pengendalian penduduk akan sangat berpengaruh secara signifikan pada program-program lainnya yang akan membawa negara pada keberhasilan, kemakmuran dan kelayakan hidup yang selalu diidam-idamkan dengan tepat sasaran.

***

Pertanyaan mendasar yang kerap berkecamuk di dalam pikiran seorang ibu (orang tua) adalah: “anakku akan jadi apa?” – sebuah pertanyaan yang sangat wajar, kekhawatiran masal di tengah carut-marutnya keadaan sosial-ekonomi Indonesia saat ini. Pemerintah sebagai pegangan harapan warga negaranyapun terkesan kurang serius mencari solusi yang tepat sasaran. Iklan layanan keluarga berencana hanya sepintas lalu tanpa tindak lanjut pelatihan dan penerangan secara kontinyu pada masyarakat secara langsung.
Dan lagi-lagi, urusan membesarkan anak dan mendidiknya adalah urusan domestik yang menjadi beban dan tanggung jawab seorang ibu secara mutlak.

Maka pameran kali ini saya beri judul: “NINA BOBO; anakku akan jadi apa?”, lahir dari beberapa gagasan tentang; kepadatan penduduk-angka kelahiran dan kesehatan ibu-anak-kontrasepsi-pertanyaan mendasar lainnya: kelak anakku akan jadi apa?

“bayi-bayi” yang telah dilahirkan ini; ada dan menjadi tanggung jawab ibu (khususnya) dan menjadi tanggung jawab orangtua untuk merawatnya. Cinta seorang ibu pada anaknya adalah inti sebuah cinta yang sejati. Keikhlasan dan ketulusan yang tak mengharap balasan apapun. Ibu akan menjadi apapun, berjuang dan berbuat apapun untuk kebahagiaan anaknya. Meskipun seringkali kita melihat paradoks seorang ibu dan bayinya duduk berasal koran menadahkan tangan demi receh-receh dari tangan-tangan yang memiliki rasa iba. Pemandangan miris ini, membenturkan pada sebuah ingatan; dimanakan para wakil rakyat, para politisi yang “menjual” nasib mereka ketika masa-masa pemilihan? Nasib-nasib miris yang mereka bahas di cafe-cafe mewah, di hotel-hotel berbintang?

Ah, “NINA BOBO; anakku akan jadi apa?” – tak perlulah nak, kau tahu bagaimana ibumu berjuang mencari makan dari belas kasih orang-orang yang lalu-lalang.

***

Sebagai bentuk komitmen kekaryaan, saya sebagai seniman selama ini berusaha untuk terus memegang prinsip 3R, yaitu Reduse, Reuse, Recycle. Saya meyakini bahwa salah satu solusi dalam menjaga lingkungan di sekitar kita yang murah dan mudah dilakukan adalah mengolah “sampah” sebagai sumber kreatifitas kekaryaan.

Reuse berarti menggunakan kembali sampah yang masih dapat digunakan untuk fungsi yang sama ataupun fungsi lainnya. Reduce berarti mengurangi segala sesuatu yang mengakibatkan sampah. Sementara Recycle berarti mengolah kembali (daur ulang) sampah menjadi barang atau produk baru yang bermanfaat.

Pada karya “NINA BOBO; anakku akan jadi apa?”, saya menggunakan sampah kertas (koran-hvs) yang didaur ulang menjadi bentuk 3D “bayi-bayi”. Sebagai pelengkap dan penguat agar karya lebih “berbicara”, saya menambahkan instalasi popok dan foto-foto performance art.

Demikian latar belakang konsep karya, statement dan material karya yang saya gunakan dalam pameran “Apa Kabar Ibu?” #2 ini.

Bandung, 9 November 2014
Salam

Yunis Kartika

Views: 12

Comments are closed for this blog post

© 2019   Created by Ajit Vahadane.   Powered by

Badges  |  Report an Issue  |  Terms of Service